Review HAPPINESS

HAPPINEES“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”

“Bisa saja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”

Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina-anak tetangga sebelah yang pandai Matematika-tanpa melihat bilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia tlah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.

 

Judul: Happiness

Penulis: Fakhrisina Amalia

Penerbit: Ice Cube

Tahun: 2015

ISBN 978-979-91-0907-1

 

Pernahkankah kamu dihadapkan diantara dua pilihan?

Pilihanmu atau pilihan Orang tuamu.

Jika pernah, mana yang kamu pilih?

Apakah yang aku pilih akan membawamu ke jalan kebahagiaan?

Ceria, gadis yang bermimpi bisa menjelajahi dan berkeliling dunia. Apa dikata, background Orang tuanya yang berkecimpung di dunia perhitungan membuatnya harus memendam dalam-dalam mimpinya.

Matematika, salah satu mata pelajaran yang tak akan pernah lepas dari kehidupan. Matematika yang membuat Ceria harus merasa mual tiap kali melihat angka, harus tertinggal pelajaran, harus terpuruk karena mimpi buruknya dan dia membuang jauh cita-citanya agar Orang tuanya mengatakan, “Kami bangga padamu, Ceria.”

Reina, anak tetangga sebelah yang menjadi mimpi buruknya tiap malam. Hanya terucap nama Reina saat Mama Ceria membandingkan Ceria dengan Reina. Tidak seperti Orang tuanya, Ceria masih ada sosok yang selalu disampingnya dan membuatnya bertahan di atas segala tekanan. Farhan, Abang Ceria yang kuliah di Jurusan Arsitek.

Semua usaha dia lakukan agar bisa sejajar dengan Reina, sang ketua kelas ahli Matematika. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Hanya itu yang Ceria dapatkan selama pelajaran yang berhubungan dengan rumus aritmatik.

Dengan memaksakan diri berteman dengan buku-buku Matematika, Fisika dimentori oleh Doni -teman sekelasnya- tiap padi dan malam. Akhirnya, saat acara kelulusan dia mendapat predikat “Lulusan Terbaik” diatas Reina dan mendapat tempat dihati Mama dan Papanya.

Walaupun, “Semua benda yang dilempar ke atas, pasti akan jatuh juga.”

“Kenapa mereka nggak pernah memperlakukan aku sama kayak mereka memperlakukan kamu?” -Ceria

“Kita punya rezeki masing-masing, bahkan dengan cara orang lain bersikap kepada kita. Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri, melakukan yang kita suka, menerima yang memang diperuntukkan untuk kita.” –Reina

Berbeda. Spesial –Farhan

Flashback. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan novel kedua Kak Fakrisina “HAPPINESS” yang diterbitkan oleh Ice Cube.

Membaca novel ini, mengulang kembali kehidupan SMAku empat setengah tahun yang lalu. Sama seperti Ceria, dihadapkan oleh pilihan sendiri dan pilihan orang tua. Rasa benci terhadap orang lain yang selalu berada di atas.

Jika Ceria harus –terpaksa- masuk jurusan MIPA, aku sendiri setelah masuk tahun kedua baru sadar, “IPA bukan duniaku.” Mengapa aku seperti itu?

Aku sedikit curhat. Entah sebuah keberuntungan atau tidak aku masuk kelas unggulan di tahun pertama aku SMA. Kelas Unggulan pertama di sekolah itu.

Tau KKM? Kriteria Kelulusan Minimum? Itu lebih tinggi dari kelas reguler. Bayangkan! Apalagi ditambah kelas cuma ada 24 siswa/i, tentunya lebih banyak ceweknya. Selama satu tahun aku tertekan dengan tuntutan ini itu dan aku tidak suka Fisika. Masih mending Kimia dan Biologi.

Saat penjurusan untuk di kelas sebelas, kurang dari lima memilih masuk IPS, dua pilih AGAMA, sisanya memilih IPA. Alasan pilihan orang tua, aku memilih IPA. Lalu hasilnya? Aku masuk IPS. Yah walau orang tua sedikit gimana gitu, akhirnya dukung aja.

Tak seburuk yang aku pikir, Alhamdulillah IPS ternyata memang cocok dengan kemampuanku. Selama dua tahun jadi anak IPS, tak ada masalah yang bikin stress kecuali mapel tentang akuntansi. Menghitung uang yang nggak ada wujudnya.

Membaca HAPPINESS cuma menghabiskan waktu dua jam dan berhasil jadi obat bosan dan sakit perut hehe. Sebenarnya buku ini sudah lama ada tapi karena banyak kendala-alasan-reviewnya jadi keundur terus kayak undur-undur. MAAF KAKKKK.

Ceritanya bagus banget, TOP buat Kak Fakhrisina deh. Udah dulu bikin nangis karena baca ALL YOU NEED IS LOVE. Sekarang dah bikin aku terisak-isak baca HAPPINESS.

Aku setuju soal Berbeda. Spesial. Itu buat aku sadar, “Aku memang berbeda tapi bukan berarti berbeda itu buruk, Tapi berbeda itu spesial.”

Aku jadi terinspirasi lho Kak, pengin jadi penulis kayak Kakak. Semoga saja tahun ini bisa. Utangku LUNAS Kak. Sekali lagi MAAF baru bisa posting. Aku tunggu lho Kak bukumu selanjutnya di 2016.

“Nggak basi, tahu, nyama-nyamain orang banyak. Nggak spesial. Kata Bu Ratna, yang beda lebih spesial. Sama kayak orang banyak nggak bikin kita mudah diingat. Misalnya, badan kamu kurus terus berada di antara orang-orang yang kurus. Jadinya sama saja, kan? Nggak spesial. Lain cerita kalau kamu jadi satu-satunya orang yang gendut di antara teman-teman yang kurus. Pasti kamu jadi beda. Lebih spesial.”

Iklan

Satu komentarmu sangat berharga bagiku :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s