Review Forever and Always

Solo, 23 April 2016.

Dear, My Blog Reader.

Review Forever and Always

Forever and Always
Jenny Thalia Faurine
Penerbit PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-02-7968-8

Blurb
Aku selalu menatap kamu dari dulu
lebih dari yang seharusnya
sehingga aku terluka sendirian.
Jika aku sudah bisa hidup tanpa menatapmu,
haruskah aku kembali menatapmu?
Aku bukan seseorang
yang suka menyakiti diriku sendiri, Ren.
Dan ternyata mencintai seseorang lebih menyakitkan dibanding yang selama ini mereka duga. Seva dan Ren, dua orang teman lama yang tak pernah bertemu sejak lima tahun lalu, sore itu akhirnya mereka dipertemukan kembali.
Ada cerita di antara mereka yang belum usai. Perpisahan tak selalu jadi garis akhir sebuah hubungan.

Singkat Cerita,

“Seva?”
“Namaku Ren.”
“Kalian pacaran?”
“Apa yang sudah terjadi selama ini, mungkin itu yang akan kita bahas. Mungkin, bisa dimulai dengan apa yang kita alami setelah lima tahun nggak bertemu.”
Ya, lima tahun adalah jarak yang tercipta di antara mereka. Yang Seva kira akan memanjang sampai puluhan tahun hingga nanti ia meninggalkan dunia ini. Ia kira mereka tak akan pernah bertemu lagi, selama-lamanya. Seperti apa yang tercetus dahulu.
Kata orang, masa SMA adalah masa-masa paling indah. Seva yang menjalani masa sekolahnya dengan tenang, tak dia sangka sosok laki-laki supel di sekolahnya mau menjalin pertemanan. Hubungan mereka baik-baik saja sampai kejadian kejadian yang mereka lewati membuat mereka paham akan sebuah hal.
…Kau tak perlu berubah banyak hanya untuk menuntut perhatian. Karena orang yang tulus denganmu, tak peduli dengan warna apa yang kau pakai di kukumu hari ini atau potongan rambut apa yang sedang ngetren di musim ini.

Ada banyak hal di dunia ini, dibandingkan penampilan dan tuntutan perhatian dari orang sekitar, yang lebih penting daripada hal itu. (26)

“Lelaki sejati itu nggak ngejadiin perempuan lain sebagai pelarian, Bro.”

Setiap Seva menatap jauh ke dalam diri Ren, rasa hangat merambat ke seluruh saraf tubuhnya, Namun, apa boleh buat sosok Anggi lebih menarik atensi Ren.
Sebenarnya, apa sih yang kamu pikirin saat dulu aku selalu bahas Anggi sama kamu?
“Selamanya, kita yang mencintai orang yang nggak mencintai kita hanya akan seperti karang yang dihempas ombak. Lama-lama akan hancur.”
Hingga satu kejadian menghancurkan Seva dan Ren didetik itu juga.

Ulasan,

Hai, ketemu lagi sama aku haha. Setelah menghilang selama berapa hari? Nggak ngitung, aku muncul kembali bersama…..”anak” ke-sekian dari seorang penulis muda, Jenny Thalia Faurine bernama Forever and Always.

Ini buku ke-2 dari Jenny yang aku baca plus review. Masih ingatkah kamu dengan Padma dan Daka? Ya, dua pemeran utama Wedding Rush… Stop, kalau diterusin malah melenceng nanti.

Oke. Kesan pertama, aku seneng banget buku ini ada ditanganku juga, akhirnya. Terima kasih buat Abduraafi dari BBI dan maaf baru bisa nyempetin posting sekarang banyak kendala, persiapan ujian, ujian mid, sempet bingung mau nulis apa setelah sekian lama hiatus *bahasa apa itu*.

Nggak banyak yang aku ulas, karena nggak ada catatan dariku. Seperti Daka di Wedding Rush, sosok Renaldhi bikin jatuh hati ♡ saat baca 3 bab. Entah kenapa kepribadian Seva ehm hampir ehm mirip sama aku. Suka sama kisah mereka berdua, bahkan aku sudah membayangkan ending yang pas buat mereka. Tapi, pas ditengah-tengah…aku hanya bisa mengikuti alur yang sudah ditakdirkan Sang Penulis.

Akhir ceritanya itu lho yang bikin hati ugh, tak sanggup aku ungkap. So, good job for you Jenny. Lima jempol untukmu. Oh ya, temen-temen kuliah aku suka banget sama Wedding Rush milikmu. Sampai dioper sana-sini. Mungkin nanti Forever and Always mengikuti jejak pendahulunya, dioper sana sini. *Semoga buku nggak rusak karena tangan-tangan gemes mereka*

Soal cover dan bookmark. Covernya jempol buat Ilustrator: Muninggar Herdianing, bookmarknya lucu kayak dibuat foto. Eh, bookmarknya yang gambar Ren aku pasang di dompetku haha biar kelihatan wah gitu haha.
Oke dipenghujung review, akhir kata. Terkadang kalimat ‘Aku mencintaimu’ bukan berarti kita akan bersama, tapi lebih kepada perpisahan yang nyata adanya. Di hadapan kita. (212)

Sukses terus buat Jenny dan para penulis yang disana.

Salam Blogger Buku, Nadia.

Iklan

Satu komentarmu sangat berharga bagiku :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s