Review Mencari Sebuah Titik

Solo, 23 April 2016

Dear, My Blog Reader.

Review Mencari Sebuah Titik

Mencari Sebuah Titik

Torianu Wisnu

PT Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-02-7217-7

Blurb

Sama seperti hidup, buku ini laiknya puzzle. Setiap pribadi berhak menyusun dan merangkai puzzle-nya masing-masing. Begitu pun kita memiliki potongan demi potongan yang tersusun secara ‘acak’ dalam buku ini.

Jika tak cermat, kita kan ‘terjebak’ dalam beberapa kalimat tertentu.

Meski ini ‘hanya’ sebatas Mencari sebuah ‘titik’, tetapi persis yang disampaikan kakak saya, Anis Khurli, ”Kamu tidak hanya akan menemukan ‘titik’. Tetapi, akan banyak koma, tanda tanya, tanda seru, petik satu dan (mungkin) akan menemukan idiom-idiom baru.”

Bersiaplah untuk mengerutkan dahi, nyinyir, atau sekadar tersenyum simpul menyimak setiap kisahnya.

Hingga akhirnya kita akan menyadari bahwa, memang sulit memahami kehidupan yang tak pernah kita ketahui akhir dari sebuah ceritanya. (Karena barangkali, cerita itu akan berlanjut lagi esok hari). Tapi, inilah menariknya kehidupan. Ia memberikan jawaban dari setiap misteri.

Singkat Cerita,

Perkenalkan, saya Genta. Pria tampan putus kuliah karena suatu hal yang tak pernah terduga sebelumnya. Pribadi yang lebih suka memilih untuk ‘diam’ terhadap beberapa perkara yang tidak diketahuinya. Lebih suka menutup diri untuk beberapa urusan orang lain. Menjadikan sebuah buku atas namanya sebagai Mahar Kawin untuk sang calon Istri.

Pasuruan, Solo, dan Jogja. Tiga kota itu menjadi saksi bisu sebuah perjalanan panjang yang sangat amat melelahkan dan mempunyai hikmah yang begitu besar.

“Cinta gak butuh rasa sungkan kok!”

Di satu perjalanan, membawa saya pada perenungan yang selama ini saya cari. Mungkin egois, tetapi itulah yang saya rasakan. Perjalanan itu membawanya menemukan siapa diri saya

“Aku adalah aku, aku tak bisa menjadi kamu. Jika kamu ingin menjadi seperti aku, itu adalah terserah kamu.”

Tiga tahun Genta menanti sebuah jawaban, ternyata jawaban itu untuk orang lain.

Kehidupan ini seperti permainan ular tangga. kita semua sama-sama mulai dari nol, kemudian kita melempar dadu untuk menentukan ke mana harus melangkah untuk pertama kali. Kadang kita mendapatkan keberuntungan, menaiki anak tangga yang tinggi dan otomatis menyingkat perjalanan. Tapi, kadang kita mendapat buntut ular. Yang akhirnya, kita harus turun. Ada yang turunnya rendah, tapi ada pula yang menukik tajam.

Ulasan,

Untuk menjadi sebuah kata, ada huruf, ada garis, ada ribuan titik.

Buku Mencari Sebuah Titik aku dapat dari sebuah kuis dari Kak Atri dan Kak Torianu Wisnu di Twitter. Tak ku sangka pertanyaan yang aku pikir lebih dari setengah jam dan aku ajukan bisa membuatku memegang buku ini plus tanda tangan huehehe *sebenarnya pengen foto bareng tapi pas lagi kuliah jadi buku ini dititipin ke Papa waktu Kak Torianu Wisnu (ada acara di salah satu kiampus deket rumah) mengirimnya secara langsung.

Ibarat jalan kampung, kehipuan Genta yang sempit penuh lika-liku menghantarkannya pada sebuah pencarian jati diri. Menganggap gelar ‘Mahasiswa’ menjadi sebuah profesi. Kebetulan aku yang sekarang kuliah semester 4 merasakan betul apa itu kehidupan seorang mahasiswa. Berangkat pagi tapi dosen nggak ngajar, pulang kejebak macet (masih untung nggak hujan), dan lain sebagainya yang menguras isi dompet.

Tinggal di Solo bersama Ibu dan adiknya, itu cukup bagi Genta. Tapi akan lebih sempurna jika ditambah dengan calon Istri. Menjadi seorang penulis itulah cita-cita Genta. Menjadikan karyanya sebuah mahar. Sama seperti saya yang lahir dan tinggal di Solo, dan ingin menjadi penulis sejak tahun lalu.

Jika Genta pernah merasakan pahit manis cinta itu sudah cukup, menurut saya, walaupun harus menunggu tiga tahun menanti sebuah jawaban pasti. Mumpung saya masih sendiri, kisah Genta memberi suatu ajaran dalam sebuah hubungan.

Ini kisah yang berbeda, genre yang beda dan pertama yang aku baca. Tidak ada unsur romantis yang kental. Semakin banyak halaman yang dilewati, semakin jauh aku masuk ke dalam cerita. Seolah Genta ada di depanku dan bercerita dengan luwesnya.

Masuknya unsur Islami (karena genrenya religi, labelnya quanta pemirsa) yang tidak kaku tapi justru kena di hati dan mendalam itu yang membuatku “Oh…..”. Beberapa kejadian yang dialami Genta membuat kita (yang sudah baca) berfikir, soalnya benar kata Genta, “Kalau bukan karena skenario Tuhan, siapa lagi?”.

Kita bahas lain. Soal cover, menurut aku simple banget tapi mengesampingkan covernya, layout isinya keren. Kesan islaminya dapet. Kota dimana Genta mencari sebuah titik, Kota solo. Dalam buku ini, ada beberapa tempat yang (mungkin) disinggahi Genta dan memang cukup familiar bagi warga kota Solo maupun sekitarnya. Salah satunya Taman Balekambang. Kebetulan aku juga pernah beberapa kali main ke sini sama temen-temen.

Keseluruhan, aku suka nggak muluk-muluk yang kental religi banget. Sedikit religi tapi ngena di hati. Menurut aku 5 Jempol buat Kak Torianu Wisnu, sang penulis. Oke, bagi kamu yang butuh bacaan tingan tapi mengubah pola pikir kamu, BUY&READ buku ‘Mencari Sebuah Titik’ di Toko Buku kesanyangan kamu.

Note: keterbatasan kuota internet, aku nggak bisa upload gambarnya.

Salam Sayang Buku, Nadia.

Iklan

Satu komentarmu sangat berharga bagiku :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s